Saturday, 22 July 2017

Bangun Kembali Cara Pandang Kita

Cara Pandang - Salah satu sifat yang menjadi bagian dari diri kita manusia adalah iri hati. Inilah yang membuat orang cenderung untuk selalu melihat 'ke atas'. Ketika orang lain mempunyai mobil, sedangkan kita hanya punya motor, lalu kita berkata, "Enak ya kalau punya mobil, mereka tidak perlu kepanasan atau kehujanan." Mereka yang tidak punya motor, ketika melihat orang lain yang bermotor mengatakan, "Kalau saja punya motor, kita tidak perlu turun naik angkot, lama di jalan lagi" demikian seterusnya, mereka tidak pernah diam ketika melihat orang lain lebih dari mereka, Jelas sikap dan pemikiran seperti ini adalah penyakit mental yang terus menggerogoti kita seperti kanker, merusakkan tatanan kesadaran dan alam bawah sadar pemikiran kita. Ketika hal itu terus bergejolak di pikiran kita, kita akan melihat orang lain sepertinya lebih bahagia dengan apa yang mereka miliki. Akan tetapi, sadarkah kita kalau orang lain pun ada kalanya iri dengan keadaan kita, apalagi jika orang tersebut ada di bawah kita secara status ekonomi sosial.

Membangun kembali cara pandang kita - Kunci sebenarnya adalah menerima diri kita seperti apa adanya, syukuri karena hal yang kita miliki saat ini adalah yang terbaik yang Tuhan berikan pada kita sesuai dengan keadaan mental, emosi, fisik  dan spiritual kita saat ini. Kalau kita selalu melihat kelebihan orang lain, yang tidak kita miliki dan menganggap betapa beruntungnya mereka, lalu kapan kita mulai bersyukur dengan keadaan kita, kapan kita mulai menggunakan energi positif mental kita untuk mencari solusi-solusi konstruktif dan progresif untuk mengatasi problematika hidup yang kita hadapi. Daripada kita sibuk berkutat mengasihani diri sendiri, mencari apa yang tidak kita punya dibandingkan dengan orang lain, apa salahnya kita lakukan sesuatu yang positif, menggali semua potensi yang kita punya, mencari tahu apa yang bisa kita lakukan untuk merubah situasi yang menurut kita kita tidak mengenakkan, memanfaatkan waktu yang ada, gunakan semua peluang-peluang yang muncul untuk mewujudkan cita-cita dan impian yang ingin dicapai. FilsufYunani, Aristoteles mengatakan beberapa hal yang harus kita lakukan untuk mengubah situasi kita :
"Taburlah gagasan, maka kita akan menuai Perbuatan, Taburlah Perbuatan, maka kita akan menuai kebiasaan, Taburlah kebiasaan, maka kita akan menuai karakter, Taburlah karakter, dan kita akan menuai Nasib".
Kecenderungan sifat lainnya adalah menghakimi. Ketika melihat keadaan orang lain setelah mereka dinilai berhasil atau sukses dalam hidupnya, kita pun kadang tidak pernah mau tahu dengan apa yang sudah dilakukannya atau perjuangan yang sudah dilaluinya untuk mencapai kehidupannya yang sekarang. Dengan berbagai praduga, kita berusaha menghibur ( membohongi diri) kita, bahwa mereka bisa sukses/kaya karena didukung kekayaan orang tuanya, mereka bisa seperti sekarang ini karena mendapatkan kemudahan-kemudahan, dan lain-lainnya. Kita tidak pernah tahu ( atau mau tahu dan mencari tahu terlebih dahulu) kesulitan dan masalah apa saja yang pernah dilewati orang tersebut. Pandangan sinis inilah yang mengaburkan objektivitas seseorang, sentimen pribadi yang hanya mengumpulkan suara hati dan menajamkan ego, sehingga membentuk pikiran negatif yang semakin mendominasi jalan pikirannya dalam menyikapi hidup.

Kalaupun kesuksesan/keberhasilan/kekayaan/kejayaan ( atau apapun namanya ) memang karena campur tangan pihak lain, warisan misalnya, atau bantuan yang diperoleh dari keluarga atau orang tuanya atau orang-orang terdekatnya , memangnnya mengapa? Anggap saja itu memang sudah rezeki orang tersebut. Mengapa kita harus sewot, berteriak-teriak seolah-olah sedang kebakaran jenggot. Lalu apakah kita akan menyalahkan orang tua kita karena tidak kaya sehingga kita tidak mendapatkan warisan kekayaan, atau kita akan menyalahkan Tuhan karena membiarkan kita terlahir di keluarga yang biasa biasa saja. Silahkan kita mengutuki nasib kita sendiri, ratapi, dan tangisi hidup kita. Dijamin sampai air mata kita habis, atau bahkan berubah menjadi darah, nasib kita tidak akan pernah berubah. Hidup kita tidak akan menjadi lebih baik jika kita sendiri tidak melakukan suatu perubahan besar atas diri kita. Bukan orang tua, bukan kakak/adik, bukan saudara, tidak juga ulama/ustad/pendeta, atau siapapun yang sanggup membantu diri kita keluar dari situasi yang tidak mengenakkan, dari penderitaan hidup, kecuali diri kita sendiri. Bahkan, tidak juga Tuhan karena Dia hanya mau menolong mereka yang mau bangkit dan menolong dirinya sendiri serta orang lain.
Kita boleh berdoa terus menerus, dengan diam-diam, atau berteriak-teriak kepada-Nya. Kita bisa lakukan itu seumur hidup kita. Kita bisa saja memohon, meminta, menuntut ( atau apapun kita menyebutnya ) hak kita, rezeki dari Tuhan, tetapi tetap saja, biar suara kita habis atau napas kita susah sampai pada penghabisan. Jika kita tidak melakukan apa yang diwajibkan pada diri kita, yaitu melakukan ikhtiar, usaha, upaya, kerja, aksi, dan tindakan, rezeki/nikmat/berkat itu tidak akan pernah datang menghampiri kira. Nasib kita tidak akan pernah berubah. Kita akan tetap seperti sekarang, tidak beranjak dari tempat kita, tidak kemana-mana dan tidak dimana-mana. Jika dari kita ada yang marah dengan pernyataan tersebut silahkan saja.

Sekarang rasakan kemarahan itu, ambil dan arahkan energinya untuk membuat kita bergerak, lepaskan belenggu keterbatasan yang kita buat sendiri selama ini. "Bangun bangkit, berbuat, dan berkaryalah, maka hak kita dari Tuhan akan datang dengan sendirinya".

Bangun Kembali Cara Pandang Kita - Setiap orang pada dasarnya sudah mempunyai apa yang disebut sebagai rezeki masing-masing. Tuhan sudah mengaturnya sedemikian rupa sehingga setiap orang sudah mendapatkan bagiannya, bahkan makhluk lain seperti binatang pun sudah diatur rezekinya, dan tidak ada yang tidak 'kebagian'. Namun, yang patut di garisbawahi bahwa rezeki tersebut tidak atau bukan proses seketika. Pada paragraf sebelumnya sudah dikatakan, rezeki tersebut datang/diberikan setelah seseorang mengikuti prinsip hukum alam, yakni ia harus mengusahakannya terlebih dahulu. Kita harus menjemput rezeki dengan ikhtiar. Usaha/upaya, ikhtiar ini adalah suatu proses yang timbul dari awal, suatu proses yang terakumulasi dalam hal-hal upaya secara mental, emosi, fisik, dan spiritual. Jadi, tidak ada yang namanya rezeki yang datang tiba-tiba, seperti jatuh dari langit, jika tidak karena adanya upaya hebat dari salah satu ke empat unsur diatas, atau karena adanya sinergi dari upaya-upaya yang melibatkan aktivitas mental (berpikir positif, visualisasi imajinasi, kreatif), aktifitas fisik (motorik), aktivitas emosi ( antusiasme, kepuasan, kabahagiaan, takut/kekhawatiran), dan aktivitas spiritual (doa, permohonan, keyakinan, keimanan). Itulah prisnip hukum alam yang harus di patuhi.

No comments:

Post a Comment