Friday, 22 September 2017

Pahitnya Masa Lalu

Sekarang saya tahu patah hati, sekarang saya tahu arti kecewa. Sekarang saya mengerti arti kehancuran, "Hatiku sudah rapuh dan tidak bertuan"
Kamu yang berada di sana, yang pernah memberi asa dan juga yang pernah berbagi rasa serta yang dahulu pernah berbagi cerita. Saya tidak akan pernah lagi bertanya, bagaimana kabarmu di sana, apakah kamu bahagia? Apakah kamu baik-baik saja? Apakah kamu selalu sehat disana? Tidak dan tidak akan pernah lagi saya ulangi pertanyaan itu. Tidak akan pernah meluncur keluar dari bibirku lagi. Sekarang kata-kata itu hilang, tidak akan muncul bahkan jika saya mau.

Kamu di sana yang memberi luka dan membuat saya melayang dengan sejuta cerita lalu jatuh tanpa penyangga, Bukan hanya rasa sakit tapi hati ini sudah hancur sejak dulu. Hati ini telah salah, memberi asa padamu. Bohong jika sekarang aku sudah melupakanmu, bohong jika aku sudah Ikhlas dengan luka ini. Tapi saya sudah mencoba, belajar dengan semua luka.

Tidak masalah….

Bukan salahmu yang memberi luka, tapi aku yang salah berharap, bukan kamu yang telah berdosa tapi aku yang telah salah jatuh cinta. Dan sekarang saya sedang belajar untuk menadi seorang manusia yagn lebih baik lagi, bukan untuk Kamu, tentu saja tidak, tapi ini hanya untuk saya dan untuk calon Imam saya nanti.

Sakit yang kamu berikan, kekecewaan yang kamu berikan saya rasa tidak bisa terhapus dengan mudah, seperti kaca retak yang tidak bisa kembali ke keadaan semula. Hati ini bukan sebuah tempat sampah yang dimana bisa menampung semua keluh kesah dirimu. Hatiku yang berubah ini akan selalu aku jaga.

Tidak akan ada lagi salam, tidak akan ada lagi senyum saat kita tidak sengaja bertemu, Kamu tidak perlu takut. Saya sungguh akan sangat baik-baik saja, Saya tidak akan membencimu, sebab "semakin saya benci maka saya tidak akan pernah bisa untuk melupakannya". Kamu tidak perlu takut, saya tidak akan pernah mengatakan kepada dunia bahwa kita pernah sama-sama berkomitmen untuk sampai kesana. Karena pada akhirnya hanyalah saya yang terluka.

Sekarang saya akan belajar untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas hidup, berhijrah untuk seseorang yang pantas untuk mengisi hati, untuk seseorang yang namanya bertepatan dengan nama saya di lauhul mahfudz, aku tidak akan kembali. Bagi saya tentang Kamu sudah tiada. Untuk kenangan itu, biarlah jadi ceritanya, yang tidak akan saya sebutkan lagi. Tidak akan saya ingat lagi.

Masa lalu itu memang banyak memberi pelajaran, yang tidak akan pernah aku lupakan, tapi sebisa mungkin, aku tidak akan mengingatnya. Akan aku birakan saja seperti air kehidupan yang terus mengalir mengikuti arusnya.

Dan sekarang, meski saya terluka, tidak ada salahnya untuk mengucapkan  “Terimakasih” kepada Anda yang sudah memberi luka, karena kamu saya belajar untuk menjadi lebih baik, melihat dan menatap masa depan lebih jauh lagi.

No comments:

Post a Comment