Friday, 22 September 2017

Pahitnya Masa Lalu

Sekarang saya tahu patah hati, sekarang saya tahu arti kecewa. Sekarang saya mengerti arti kehancuran, "Hatiku sudah rapuh dan tidak bertuan"
Kamu yang berada di sana, yang pernah memberi asa dan juga yang pernah berbagi rasa serta yang dahulu pernah berbagi cerita. Saya tidak akan pernah lagi bertanya, bagaimana kabarmu di sana, apakah kamu bahagia? Apakah kamu baik-baik saja? Apakah kamu selalu sehat disana? Tidak dan tidak akan pernah lagi saya ulangi pertanyaan itu. Tidak akan pernah meluncur keluar dari bibirku lagi. Sekarang kata-kata itu hilang, tidak akan muncul bahkan jika saya mau.

Kamu di sana yang memberi luka dan membuat saya melayang dengan sejuta cerita lalu jatuh tanpa penyangga, Bukan hanya rasa sakit tapi hati ini sudah hancur sejak dulu. Hati ini telah salah, memberi asa padamu. Bohong jika sekarang aku sudah melupakanmu, bohong jika aku sudah Ikhlas dengan luka ini. Tapi saya sudah mencoba, belajar dengan semua luka.

Tidak masalah….

Bukan salahmu yang memberi luka, tapi aku yang salah berharap, bukan kamu yang telah berdosa tapi aku yang telah salah jatuh cinta. Dan sekarang saya sedang belajar untuk menadi seorang manusia yagn lebih baik lagi, bukan untuk Kamu, tentu saja tidak, tapi ini hanya untuk saya dan untuk calon Imam saya nanti.

Sakit yang kamu berikan, kekecewaan yang kamu berikan saya rasa tidak bisa terhapus dengan mudah, seperti kaca retak yang tidak bisa kembali ke keadaan semula. Hati ini bukan sebuah tempat sampah yang dimana bisa menampung semua keluh kesah dirimu. Hatiku yang berubah ini akan selalu aku jaga.

Tidak akan ada lagi salam, tidak akan ada lagi senyum saat kita tidak sengaja bertemu, Kamu tidak perlu takut. Saya sungguh akan sangat baik-baik saja, Saya tidak akan membencimu, sebab "semakin saya benci maka saya tidak akan pernah bisa untuk melupakannya". Kamu tidak perlu takut, saya tidak akan pernah mengatakan kepada dunia bahwa kita pernah sama-sama berkomitmen untuk sampai kesana. Karena pada akhirnya hanyalah saya yang terluka.

Sekarang saya akan belajar untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas hidup, berhijrah untuk seseorang yang pantas untuk mengisi hati, untuk seseorang yang namanya bertepatan dengan nama saya di lauhul mahfudz, aku tidak akan kembali. Bagi saya tentang Kamu sudah tiada. Untuk kenangan itu, biarlah jadi ceritanya, yang tidak akan saya sebutkan lagi. Tidak akan saya ingat lagi.

Masa lalu itu memang banyak memberi pelajaran, yang tidak akan pernah aku lupakan, tapi sebisa mungkin, aku tidak akan mengingatnya. Akan aku birakan saja seperti air kehidupan yang terus mengalir mengikuti arusnya.

Dan sekarang, meski saya terluka, tidak ada salahnya untuk mengucapkan  “Terimakasih” kepada Anda yang sudah memberi luka, karena kamu saya belajar untuk menjadi lebih baik, melihat dan menatap masa depan lebih jauh lagi.

Jangan Takut Pada Suatu Kesalahan

Jangan khawatir jika Anda membuat kesalahan. Hanya orang yang berani, mencoba, dan tekun, menyelesaikan tugas dan meraih kesuksesan.

Sangat nyaman bersikap pasif, tidak berusaha, dan tetap akrab. Namun, dengan berbuat demikian, kita membiarkan pengaruh eksternal membentuk hidup Anda.

Beraninya, mencoba hal baru, dan membuat perubahan, nampaknya mengintimidasi. Lebih nyaman untuk menderita, mengeluh, dan tinggal di tempat yang sama.
Mengapa Daring Mengintimidasi?

  • Anda takut Anda bisa membuat kesalahan.
  • Anda takut tampil konyol.
  • Anda ingin menghindari kritik.
  • Ada kekurangan harga diri.
  • Ada sedikit rasa percaya diri.
Jika Anda ingin membiarkan daftar di atas mengintimidasi Anda, dan karena itu, tidak senang, mengeluh, dan tetap berada di tempat Anda berada, inilah pilihan Anda. Namun, jika Anda ingin menjalani kehidupan yang lebih besar, Anda harus mempertimbangkan untuk mengambil langkah di luar ketakutan Anda dan mulailah berani.

Hal ini tidak begitu sulit dilakukan.

Ini adalah masalah sikap. Ini adalah masalah mengubah pola pikir Anda. Seperti kata pepatah, 'itu semua ada dalam pikiran'.

Setelah langkah pertama, nampaknya kurang menginterogasi untuk berani, bahkan jika Anda membuat kesalahan dan pilihan buruk.

Semua orang yang meraih kesuksesan, segala jenis kesuksesan, berani mencoba. Mereka melakukan kesalahan, dan mereka gagal berkali-kali, tapi mereka tidak menyerah.
Dimana kamu berani?

Hal ini tergantung pada Anda. Dianjurkan untuk memulai dengan hal-hal kecil, dan saat Anda mendapatkan kepercayaan diri, lakukan hal-hal yang lebih besar.

Berikut adalah beberapa sarannya:
  • Mulai belajar bahasa asing.
  • Pergilah bertemu orang dan teman baru.
  • Lakukan perjalanan ke luar negeri.
  • Dekor ulang rumah Anda.
  • Mintalah atasan Anda untuk kenaikan gaji.
  • Mulai pergi ke gym.
Berani, jangan Takut Membuat Kesalahan.

Setelah mendapatkan beberapa pengalaman, Anda akan merasa lebih percaya diri untuk berani menangani proyek yang lebih besar, seperti:
  • Temukan pekerjaan yang lebih baik
  • Kembali kuliah atau mulai belajar di Universitas
  • Jadikan langkah yang selalu Anda inginkan, ke lingkungan baru, kota baru, atau negara yang berbeda
  • Memulai bisnis
  • Mengubah hobi menjadi bisnis
Ini hanya beberapa hal yang dapat Anda lakukan dengan berani.

Jika Anda membuat kesalahan, tidak apa-apa. Semua orang membuat kesalahan. Belajar dari mereka dan teruskan. Seperti yang dikatakan sebelumnya, semua orang sukses melakukan kesalahan, tapi mereka tidak membiarkan kesalahan mereka membuat mereka enggan atau menghalangi mereka.

Ini cukup sederhana, meski tidak begitu mudah untuk berani, dan takut melakukan kesalahan. Ini tidak ada hubungannya dengan keuangan, kekuatan fisik atau pendidikan. Ini semua adalah keadaan pikiran. Itu adalah sesuatu di dalam dirimu.

Anda perlu menemukan kekuatan dan keberanian di dalam diri Anda. Anda harus belajar untuk berani dan berani, dan melakukan sesuatu, tanpa perlu didorong dan dimotivasi dari luar.

Anda memiliki kekuatan ini di dalam diri Anda, Anda hanya perlu menyadarinya, dan menguatkannya. Afirmasi, visualisasi, dan pengembangan kekuatan batin adalah alat untuk melakukan ini.

Belajar menjadi pelaku, dengan mengambil inisiatif dan bertindak sekarang, tanpa menunda-nunda atau ragu. Mulailah dengan hal-hal kecil sederhana untuk mendapatkan pengalaman dan kepercayaan diri.
  • Dapatkah Anda belajar berbicara dengan lancar bahasa asing, tanpa membuat beberapa kesalahan pada awalnya?
  • Bisakah Anda menjadi juru masak yang hebat, tanpa belajar, memasak dan bereksperimen, dan membuat beberapa kesalahan di sepanjang jalan?
  • Bisakah Anda menciptakan bisnis yang sukses, tanpa belajar, berinvestasi, membuat kesalahan, dan mencoba lagi?
  • Dapatkah Anda menjadi ahli dalam bidang apa pun, sebelum Anda memiliki cukup pengalaman?
Jangan khawatir jika Anda membuat kesalahan dalam perjalanan. Dengan membuat kesalahan, Anda belajar memperbaiki dan berbuat lebih baik.

Anda hanya perlu mengambil tindakan. Ini tidak sesulit yang terlihat.

Wednesday, 20 September 2017

Satu Pesan Terbuka Untuk Kamu

Hai, kamu yang sedang membaca tulisan ini, bagaimana harimu sekarang! Mengapa langit mendung seakan terlihat di wajah Kamu hari ini. Sepertinya harimu tidak sedang dalam keadaan baik ya. Apakah banyak yang mengganggu pikiranmu sehingga kamu telihat seperti itu! Saya sering melihat kamu menghabiskan begitu banyak waktu untuk duduk termenung. Bagaimana dengan makan dan tidur kamu! Sekarang Kamu sedikit terlihat agak kurus dan matamu terkadang suka kehilangan fokus.

Apakah ini semua berhubungan dengan keadaan hatimu! Apakah kamu masih menahan luka-luka yang digoreskan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab!

Hmmm..

Bolehkah saya berbicara denganmu!

Saya tahu semua orang pasti pernah mendapatkan luka, entah itu luka fisik maupun psikis. Luka yang didapatpun terkadang terasa begitu membekas di dalam hati dan kenangan. Namun, apakah layak waktu bahagia Kamu itu dikorbankan untuk terus merasakan luka-luka itu! 1 jam Kamu menghabiskan waktu untuk menelan luka pahit yang tercipta, 3.600 detik Kamu telah menyia-nyiakan waktu untuk melakukan sesuatu yang lebih bermanfaat.

Luka itu memang suka sekali untuk menetap di dalam hati dan kenangan. Meninggalkan rasa sakit dan juga membuat orang yang mengalaminya merasakan kehampaan dan seperti kehilangan semangat hidup. Namun, jangan dijadikan alasan untuk selalu tenggelam dalam kesedihan yang seakan tidak pernah ada habisnya.

Jujur saja, Saya sedih melihatmu seperti ini. Wajah membungkuk. Tatapan kosong. Kehilangan semangat untuk melakukan sesuatu. Kamu terlihat seperti orang asing. Bukan versi terbaik kamu. Jika saya boleh berbicara, maka izinkan saya untuk mengatakan ini:

"Maafkan orang-orang yang sering membuat Anda sedih, Ikhlaskan semua luka yang Kamu terima dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab itu. Amarah tidak akan ada habisnya jika Kamu masih saja menyimpannya dalam hati dan juga kenangan. Saya tahu itu memang sulit untukmu, Memaafkan orang-orang yang dengan sengaja melukaimu. Tapi, Sulit bukan berarti tidak mungkin kan !"
Kamu itu sangat berharga. Banyak orang yang mencintaimu, yang tidak ingin melihatmu sedih terlalu lama, maka jangan sia-siakan harimu. Sekarang saatnya untuk bahagia, Ikhlaskan apa yang telah terjadi di masa lalu, dan lanjutkan perjalanan indahmu yang sempat terhenti. Mengampuni memang tidak akan mengubah apa yang telah terjadi, tapi bisa meringankan langkahmu untuk terus maju seiring berjalannya waktu.

Pelajaran Dari Sang Merpati

Merpati adalah burung yang kerapkali dijadikan simbol cinta dalam suatu pernikahan. Tak heran banyak undangan pernikahan, kartu ucapan yang selalu memakai merpati ini untuk dijadikan sebagai simbol utamanya. Ternyata dibalik penggunaan simbol tersebut itu bukan tanpa alasan melainkan ada sebuah filosofi yang memiliki arti sepasang merpati.

Teladan Yang Dapat Diambil Dari Burung Merpati

1. Tidak Memiliki Empedu

Apa anda tahu !, burung merpati adalah salah satu spesies yang tidak memiliki sebuah empedu, sehingga burung merpati ini tidak menyimpan kepahitan dalam hati mereka. Ini memiliki suatu arti bahwa orang yang tidak pernah menyimpan kepahitan dalam hatinya, berarti dia adalah orang yang luar biasa yang tidak menaruh sebuah dendam terhadap siapapun.

2. Burung Yang Setia

Coba anda lihat, apa ada burung merpati yang pasangannya selalu berganti-ganti? Jawabannya bisa kalian cari sendiri " Tidak ",  Karena Pasangannya cukup hanya 1 untuk seumur hidupnya. Tentu sangat berbeda dengan hewan ataupun burung lain yang pasangannya selalu berganti-ganti guna untuk berkembang biak, Pasangan burung merpati sendiri biasanya hanya cukup 1 untuk seumur hidupnya. Itulah alasan mengapa merpati sering kali digunakan sebagai simbol kesetiaan dalam sebuah hubungan.

3. Tahu Betul Bagaimana Untuk Membangun Sebuah Kerja Sama.

Burung merpati adalah burung yang selalu digunakan untuk suatu simbol kesetiaan cinta. Burung merpati itu tahu betul bagaimana cara untuk membangun sebuah kerjasama. Coba kalian lihat saat mereka bekerja sama untuk membangun sebuah sarang. Laki-laki dan perempuan secara bergantian mengambil ranting-ranting untuk sarang anak mereka. Saat sang betina sedang Mengerami, si jantan berdiri di luar kandang untuk berjaga layaknya polisi. Dan jika sang betina merasa kelelahan, sang jantanpun gantian masuk untuk mengerami dan merawat anak mereka. Lantas, Pernahkah anda melihat bahwa mereka pernah saling mencaci dan bertengkar !!!

4. Tahu Kemana Harus Pulang

Sejauh manapun Mereka terbang mengudara, Mereka tidak pernah tersesat untuk jalan pulang. Mereka tahu dimana posisi rumanya, tempat dimana mereka selalu menghabiskan waktu dan berkumpul bersama-sama. Lantas, adakah burung merpati yaang tersesat untuk pulang !!!

5. Romantis

Coba perhatikan ketika sang jantan mengeluarkan suara seperti menggerutu yang membentuk nyanyian tentang sebuah pujian, sang betina pasti tertunduk malu. Lantas, pernahkah kita melihat mereka saling bertengkar atau mencaci maki !!!


Hal diatas adalah kebiasan serta karakter dari Burung Merpati. Terus, Kita, Seorang manusia yang dianugerahi organ tubuh yang sempurna oleh tuhan apakah mampu untuk menteladani kebisaan serta karakter dari Burung Merpati tersebut !!!

Pilihan Hidup Seorang Manusia

Saya yakin bahwa hidup manusia itu berjalan karena 2 faktor, yaitu rencana Tuhan dan usaha manusianya sendiri. Seperti yang kita ketahui bahwa manusia itu memiliki banyak kelebihan yang terdapat pada otak mereka sehingga manusia adalah makhluk yang paling utama daripada makhluk yang lainnya. Karena Tuhan sudah menunjuk kita sebagai khilafah untuk muka bumi ini, sebagaimana yang telah agama Islam terangkan.

Kita yang selalu memiliki banyak pilihan hidup, pilihan yang akan kita tuju dan bagaimana cara untuk menggapai tujuan tersebut. Pilihan untuk menjadi apa kita pada kedepannya, siapa kita dimata orang lain, dan bagaimana kita bisa dihormati dan dihargai. Pilihan yang memang tidak bisa dipilih selain oleh manusia.

Untuk anak kecil, memilih memang bukanlah suatu hal yang sulit. Ketika mereka ditanya ingin menjadi apa untuk kedepannya, mereka mampu menjawabnya dengan spontan. Bahkan jika mereka tidak memiliki jawaban, mereka hanya menggelengkan kepala, atau mengatakan bahwa mereka tidak tahu, dan si kecil ini tidak terganggu oleh tidak adanya jawaban untuk sebuah pertanyaan.

Seiring kita mencapai usia dewasa, semakin banyak masukan yang dimiliki si anak, semakin banyak juga pandangannya tentang pilih memilih. Ia bisa tetap teguh akan pendiriannya waktu kecil. Misalnya ketika dia duduk dibangku SD, dia ingin menjadi seorang pilot, ketika dia remaja masih tetap ingin jadi seorang pilot, bedanya dia sudah tau betul langkah yang harus dia ambil untuk menjadi seorang pilot dan setidaknya dia sudah bisa untuk mencari tahu sendiri.


Beberapa dari mereka telah mengubah pilihannya. Pilihan itu bisa mereka tambah kurangi atau bahkan menggantinya dengan pilihan baru dan itu semua tergantung bagaimana lingkungan di sekitar mempengaruhi hidupnya.

Mungkin orang dewasa itu bisa lebih pandai untuk memilih sesuatu dibandingkan dengan anak kecil. Tapi kekurangannya hanya ada satu. Orang dewasa tidak seperti anak kecil. Saat memilih sesuatu, maka itu akan menjadi suatu hal yang sangat berat bagi orang dewasa, dan tak jarang pula membuatnya tidak bisa tidur berhari-hari.

Itulah sebuah pilihan. Ketika keikhlasan diwajibkan senantiasa hadir disaat kenyataan tidak sesuai dengan pilihan. Lingkungan menghadirkan sesuatu yang lain. Alam semesta mengungkapkan hal yang berbeda. Tuhan telah mengatur hidup untuk ciptaan-Nya.

Terkadang kita perlu mengambil pandangan dari anak kecil dalam memilih dan menyikapi hasil, sebagaimana yang pernah kita lewati. Tidak perlu terlalu dihiraukan dengan kenyataan hidup kita yang tak terencanakan. Mintalah bimbingan dari Sang Maha Kuasa agar lebih baik untuk kedepannya.

Setelah Kita memahami suatu pilihan hidup, langkah selanjutnya yang harus kita lakukan  adalah menyelaraskan hidup kita. Dibawah ini mudah-mudahan adalah beberapa hal yang dapat menjadikan hidup kita lebih bermakna.
  • Jika hidup itu adalah suatu ibadah, maka pastikan bahwa semua aktivitas kita yang kita lakukan itu adalah ibadah. Caranya adalah niatkan selalu aktivitas kita untuk ibadah dan memperbaruinya setiap saat dan pastikan apa yang kita lakukan itu sesuai dengan tuntunan (ibadah mahdhah) dan tidak dilarang oleh syariat (ghair mahdhah).
  • Jika hidup itu adalah suatu ujian, maka tidak ada cara lain lagi untuk menyelaraskan hidup kita selain menjalani hidup itu dengan penuh kesabaran.
  • Jika kehidupan di akhirat itu lebih baik daripada kehidupan di dunia, maka kita harus memprioritaskan kehidupan akhirat. Bukan berarti kita haru meninggalkan kehidupan dunia, akan tetapi menjadikan kehidupan dunia sebagai bekal menuju akhirat nanti.
  • Jika hidup ini hanya sementara, maka perlu kesungguhan (ihsan) dalam beramal. Tidak ada lagi kata santai, mengandai-ngandai, panjangan angan-angan apalagi malas karena kita tahu bahwa hidup ini hanya sementara da bukan untuk selamanya. Bergeraklah sekarang, bertindaklah, dan berlomba-lombalah dalam hal kebaikan.

Seungguhnya, apa yang ada dalam Al Quran itu tidak diragukan lagi kebenarannya, jika ada kesalahan pun, kesalahan itu hanya datang dari diri saya pribadi (Manusia). Semoga semua usaha kita dalam menajalani hidup ini dapat menjadikan hidup kita lebih bermakna.

Saturday, 22 July 2017

Bangun Kembali Cara Pandang Kita

Cara Pandang - Salah satu sifat yang menjadi bagian dari diri kita manusia adalah iri hati. Inilah yang membuat orang cenderung untuk selalu melihat 'ke atas'. Ketika orang lain mempunyai mobil, sedangkan kita hanya punya motor, lalu kita berkata, "Enak ya kalau punya mobil, mereka tidak perlu kepanasan atau kehujanan." Mereka yang tidak punya motor, ketika melihat orang lain yang bermotor mengatakan, "Kalau saja punya motor, kita tidak perlu turun naik angkot, lama di jalan lagi" demikian seterusnya, mereka tidak pernah diam ketika melihat orang lain lebih dari mereka, Jelas sikap dan pemikiran seperti ini adalah penyakit mental yang terus menggerogoti kita seperti kanker, merusakkan tatanan kesadaran dan alam bawah sadar pemikiran kita. Ketika hal itu terus bergejolak di pikiran kita, kita akan melihat orang lain sepertinya lebih bahagia dengan apa yang mereka miliki. Akan tetapi, sadarkah kita kalau orang lain pun ada kalanya iri dengan keadaan kita, apalagi jika orang tersebut ada di bawah kita secara status ekonomi sosial.

Membangun kembali cara pandang kita - Kunci sebenarnya adalah menerima diri kita seperti apa adanya, syukuri karena hal yang kita miliki saat ini adalah yang terbaik yang Tuhan berikan pada kita sesuai dengan keadaan mental, emosi, fisik  dan spiritual kita saat ini. Kalau kita selalu melihat kelebihan orang lain, yang tidak kita miliki dan menganggap betapa beruntungnya mereka, lalu kapan kita mulai bersyukur dengan keadaan kita, kapan kita mulai menggunakan energi positif mental kita untuk mencari solusi-solusi konstruktif dan progresif untuk mengatasi problematika hidup yang kita hadapi. Daripada kita sibuk berkutat mengasihani diri sendiri, mencari apa yang tidak kita punya dibandingkan dengan orang lain, apa salahnya kita lakukan sesuatu yang positif, menggali semua potensi yang kita punya, mencari tahu apa yang bisa kita lakukan untuk merubah situasi yang menurut kita kita tidak mengenakkan, memanfaatkan waktu yang ada, gunakan semua peluang-peluang yang muncul untuk mewujudkan cita-cita dan impian yang ingin dicapai. FilsufYunani, Aristoteles mengatakan beberapa hal yang harus kita lakukan untuk mengubah situasi kita :
"Taburlah gagasan, maka kita akan menuai Perbuatan, Taburlah Perbuatan, maka kita akan menuai kebiasaan, Taburlah kebiasaan, maka kita akan menuai karakter, Taburlah karakter, dan kita akan menuai Nasib".
Kecenderungan sifat lainnya adalah menghakimi. Ketika melihat keadaan orang lain setelah mereka dinilai berhasil atau sukses dalam hidupnya, kita pun kadang tidak pernah mau tahu dengan apa yang sudah dilakukannya atau perjuangan yang sudah dilaluinya untuk mencapai kehidupannya yang sekarang. Dengan berbagai praduga, kita berusaha menghibur ( membohongi diri) kita, bahwa mereka bisa sukses/kaya karena didukung kekayaan orang tuanya, mereka bisa seperti sekarang ini karena mendapatkan kemudahan-kemudahan, dan lain-lainnya. Kita tidak pernah tahu ( atau mau tahu dan mencari tahu terlebih dahulu) kesulitan dan masalah apa saja yang pernah dilewati orang tersebut. Pandangan sinis inilah yang mengaburkan objektivitas seseorang, sentimen pribadi yang hanya mengumpulkan suara hati dan menajamkan ego, sehingga membentuk pikiran negatif yang semakin mendominasi jalan pikirannya dalam menyikapi hidup.

Kalaupun kesuksesan/keberhasilan/kekayaan/kejayaan ( atau apapun namanya ) memang karena campur tangan pihak lain, warisan misalnya, atau bantuan yang diperoleh dari keluarga atau orang tuanya atau orang-orang terdekatnya , memangnnya mengapa? Anggap saja itu memang sudah rezeki orang tersebut. Mengapa kita harus sewot, berteriak-teriak seolah-olah sedang kebakaran jenggot. Lalu apakah kita akan menyalahkan orang tua kita karena tidak kaya sehingga kita tidak mendapatkan warisan kekayaan, atau kita akan menyalahkan Tuhan karena membiarkan kita terlahir di keluarga yang biasa biasa saja. Silahkan kita mengutuki nasib kita sendiri, ratapi, dan tangisi hidup kita. Dijamin sampai air mata kita habis, atau bahkan berubah menjadi darah, nasib kita tidak akan pernah berubah. Hidup kita tidak akan menjadi lebih baik jika kita sendiri tidak melakukan suatu perubahan besar atas diri kita. Bukan orang tua, bukan kakak/adik, bukan saudara, tidak juga ulama/ustad/pendeta, atau siapapun yang sanggup membantu diri kita keluar dari situasi yang tidak mengenakkan, dari penderitaan hidup, kecuali diri kita sendiri. Bahkan, tidak juga Tuhan karena Dia hanya mau menolong mereka yang mau bangkit dan menolong dirinya sendiri serta orang lain.
Kita boleh berdoa terus menerus, dengan diam-diam, atau berteriak-teriak kepada-Nya. Kita bisa lakukan itu seumur hidup kita. Kita bisa saja memohon, meminta, menuntut ( atau apapun kita menyebutnya ) hak kita, rezeki dari Tuhan, tetapi tetap saja, biar suara kita habis atau napas kita susah sampai pada penghabisan. Jika kita tidak melakukan apa yang diwajibkan pada diri kita, yaitu melakukan ikhtiar, usaha, upaya, kerja, aksi, dan tindakan, rezeki/nikmat/berkat itu tidak akan pernah datang menghampiri kira. Nasib kita tidak akan pernah berubah. Kita akan tetap seperti sekarang, tidak beranjak dari tempat kita, tidak kemana-mana dan tidak dimana-mana. Jika dari kita ada yang marah dengan pernyataan tersebut silahkan saja.

Sekarang rasakan kemarahan itu, ambil dan arahkan energinya untuk membuat kita bergerak, lepaskan belenggu keterbatasan yang kita buat sendiri selama ini. "Bangun bangkit, berbuat, dan berkaryalah, maka hak kita dari Tuhan akan datang dengan sendirinya".

Bangun Kembali Cara Pandang Kita - Setiap orang pada dasarnya sudah mempunyai apa yang disebut sebagai rezeki masing-masing. Tuhan sudah mengaturnya sedemikian rupa sehingga setiap orang sudah mendapatkan bagiannya, bahkan makhluk lain seperti binatang pun sudah diatur rezekinya, dan tidak ada yang tidak 'kebagian'. Namun, yang patut di garisbawahi bahwa rezeki tersebut tidak atau bukan proses seketika. Pada paragraf sebelumnya sudah dikatakan, rezeki tersebut datang/diberikan setelah seseorang mengikuti prinsip hukum alam, yakni ia harus mengusahakannya terlebih dahulu. Kita harus menjemput rezeki dengan ikhtiar. Usaha/upaya, ikhtiar ini adalah suatu proses yang timbul dari awal, suatu proses yang terakumulasi dalam hal-hal upaya secara mental, emosi, fisik, dan spiritual. Jadi, tidak ada yang namanya rezeki yang datang tiba-tiba, seperti jatuh dari langit, jika tidak karena adanya upaya hebat dari salah satu ke empat unsur diatas, atau karena adanya sinergi dari upaya-upaya yang melibatkan aktivitas mental (berpikir positif, visualisasi imajinasi, kreatif), aktifitas fisik (motorik), aktivitas emosi ( antusiasme, kepuasan, kabahagiaan, takut/kekhawatiran), dan aktivitas spiritual (doa, permohonan, keyakinan, keimanan). Itulah prisnip hukum alam yang harus di patuhi.